*** *INFORMASI AKAN TERJADINYA GERHANA BULAN PARSIAL SELURUH INDONESIA* ***
Diambil dari pesan whatsapp grup oleh ust Hisyam Moe'ti
Insya Allah, berdasarkan hasil perhitungan astronomis, bahwa pada:
HARI/TANGGAL: Malam Selasa/ 7-8 Agustus 2017
Kronologis Periode:
- Fase Awal Penumbral: 22:50:02 WIB (7 Agustus)
- Fase Awal Umbra: 00:22:55 WIB
- Fase Puncak (Mengalami Kegelapan): 01:20:27 WIB
- Fase Akhir Umbra: 02:18:10 WIB
- Fase Akhir Penumbral: 03:50:56 WIB
AKAN TERJADI GERHANA BULAN PARSIAL yang DAPAT DILIHAT DI SELURUH WILAYAH INDONESIA.
Bagi seluruh UMAT ISLAM DIHIMBAU untuk:
1. Mengumandangkan TAKBIRAN sebagaimana takbir Hari Raya mulai AWAL GERHANA.
2. Mengumandangkan ISTIGHFAR, TASBIH, TAHLIL, dan TAHMID sebagaimana takbir Hari Raya mulai AWAL GERHANA hingga AKHIR GERHANA terbuka.
3. Menyeru kepada UMAT ISLAM untuk SHOLAT GERHANA BULAN secara BERJAMA'AH.
4. SHOLAT GERHANA BULAN saat PUNCAK GERHANA.
5. KHUTBAH GERHANA yang temanya tentang KEAGUNGAN ALLAH dan memperbanyak TAUBAT.
6. SHODAQOH GERHANA hingga gerhana berakhir.
Sumber/Referensi:
1. KALENDER NU/PBNU;
2. KALENDER LEMBAGA FALAKIAH NU JAWA TIMUR;
3. ALMANAK PERSATUAN ISLAM (PERSIS);
4. NASA;
5. TIME AND DATE;
*** *Silakan UMUMKAN KE SELURUH PENGURUS MASJID DI SELURUH INDONESIA MELAUI JARINGAN MEDIA SOSIAL FACEBOOK, TWITTER, WHATSAPP, TELEGRAM, MEDIA RADIO KONVENSIONAL, DAN MEDIA TELEVISI KONVENSIONAL* ***
https://m.facebook.com/groups/83563614041?view=permalink&id=10155469466124042
[7/8 08.47] +62 858-4299-3634: Sholat Gerhana Matahari dan Bulan, Hukum dan Tata Caranya
Ada dua istilah dalam penamaan gerhana, kusuf dan khusuf. Keduanya adalah sinonim. Jika kedua nama tersebut disebutkan secara bersamaan, maka makna kusuf untuk gerhana matahari dan khusuf untuk gerhana bulan. Dua penyebutan dengan nama yang berbeda seperti ini lebih masyhur di kalangan fuqoha’. Namun kadangkala ada penyebutan kusufaini dan khusufaini yang keduanya bermakna dua gerhana, yaitu matahari dan bulan.
Pada dua kejadian alam ini, gerhana matahari dan bulan, ada sholat yang disyariatkan oleh Rosulullah SAW, yaitu sholat gerhana. Rasulullah Bersabda:
(إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَا يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَادْعُوا اللَّهَ وَصَلُّوا حَتَّى تَنْكَشِفَ (رواه مسلم)
Artiya: “sesungguhya matahari dan bulan merupakan dua tanda dari tanda-tanda kekuasaan Allah SWT. Dan keduanya tidak akan megalami gerhana karena sebab kematian dan kelahiran seseorang. Jika kalian meliatnya (kedua gerhana) maka berdoalah kepada Allah dan kerjakanlah sholat hingga hilang gerhananya.” (HR. Muslim)
Hukum Sholat gerhana dan Tatacara pelaksanaannya:
Secara hukum taklifi, sholat kusuf asy-Syams atau gerhana matahari, jumhur ulama menghukuminya sebagai sunnah muakkadah bagi setiap muslim dan dilakukan secara berjamaah. [shohih fiqh as-Sunnah, vol. 1 hal. 381]. Adapun sholat khusuf al-qomar atau sholat gerhana bulan, ulama berbeda pendapat. Ada yang megatakan dilakukan sendiri-sendiri ada juga yang mengatakan dilakukan secara berjamaah sebagaimana sholat gerhana matahari.
Namun, DR. Wahbah Az Zuhaili dalam kitabnya Mausuah al Fiqh al Islami wa al Qodoya al Mu’ashiroh, vol. 2, hal. 353 beliau mengatakan: “sholat gerhana, baik matahari maupun bulan, bisa dilakukan dengan berjamaah atau pun sendiri-sendiri, baik sirr maupun jahr, dengan khutbah maupun tanpa khutbah sesuai rincian (perbedaan pedapat) pada masing-masing madzhab. Namun mengerjakannya di masjid secara berjamaah lebih utama karena Rasulullah pernah melakukannya demikian (jamaah di masjid)”.
Tatacara pelaksanaan:
Adapun tatacara pelaksanaan sholat gerana, baik matahari maupun bulan, DR. Wahbah Az Zuhaili meringkaskan pendapat jumhur fuqoha’ dari bebrapa kitab yang dinukilnya. [al Qowanin al Fiqhiyah, hal. 88, Bidayatul Mujtahid, vol. 1, hal. 203, Mughni Al Muhtaj, vol. 1, hal. 317, dll]
1. Sholat gerhana dilakukan dua rakaat tanpa adzan dan iqomah. sebelum pelaksanannya dianjurkan untuk membaca as sholata jamiah oleh perwakilan jamaah. Sebagaimana hadis dari Aisyah r.a:
أَنَّ الشَّمْسَ خَسَفَتْ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَبَعَثَ مُنَادِيًا «الصَّلاَةَ جَامِعَةً»، فَاجْتَمَعُوا وَتَقَدَّمَ فَكَبَّرَ، وَصَلَّى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ في رَكْعَتَيْنِ وَأَرْبَعَ سَجَدَاتٍ )رواه مسلم(
Artinya: “Pada zaman Nabi Pernah terjadi gerhana matahari, kemudian beliau (Nabi) mengutus seorang penyeru untuk mengucapkan “Ash sholat Jamiatan”. Kemudian orang-orang berkumpul dan Nabi maju (untuk imam) dan memulai sholatnya dengan empat ruku’ dan empat sujud” [HR. Muslim]
2. Masing-masing rakaat terdiri dari: dua berdiri, dua bacaan (al Fatihah kemudian surat) dan dua ruku’ serta dua sujud. Secara keseluruhan 2 rakaat ada 4 ruku’, 4 berdiri, 4 al Fatihah dan surat, dan 4 sujud,
3. Raakat pertama:
a. Berdiri pertama, membaca al Fatihah kemudian surat, disunahkan surat al Baqoroh atau yang sepanjang al Baqoroh.
b. Kemudian rukuk dan berdiri kembali (berdiri kedua) sembari membaca “samiallahu liman hamidahu. Robbana lakal hamdu”.
Membaca “samiallahu liman hamidah. Robbana lakal hamdu” setiap kali bangun dari ruku’ sebagaima sholat yang lain. [DR. Fauzan bin Abdullah al Fauzan, al Mulakhos al Fiqhi, vol. 1, hal 205]
c. Bediri kedua membaca al Fatihah dan surat yang lebih pendek dari al Baqoroh. Kira-kira 200 ayat seperti Ali Imron.
d. Kemudian ruku’ dan i’tidal
e. Sujud 2 kali kemudian berdiri untuk rakaat ke dua.
4. Rakaat kedua:
a. Rakkat kedua sama sebagaimana rakaat pertama. Namun diakhiri dengan tasyahud dan salam.
b. Berdiri ketiga, disunahkan membaca surat yang lebih pedek dari Ali Imron, yaitu sekitar 150 ayat seperti surat An Nisa’.
c. Dan berdiri keempat membaca suarat yang lebih pedek dari berdiri ketiga, sekitar 100 ayat seperti surat al Maidah.
Bacaan panjang pada 4 berdiri itu sifatnya hanya anjuran bukan wajib. Karena bacaan bacaan panjang mempunyai tujuan, di antaranya, untuk menunggu berakhirnya peristiwa gerhana. Bahkan panjangnya bacaan bisa saja disesuaikan dengan lamanya peristiwa gerhana menurut perkiraan para ahli.
5. Jahr dan sirr atau mengeraskan dan memelankan bacaan [DR. Wahbah Az Zuhaili dalam kitabnya Mausuah al Fiqh al Islami wa al Qodoya al Mu’ashiroh, vol. 1, al 358]
Untuk sholat gerhana bulan atau khusufu al Qomar ulama bersepakat untuk megeraskan bacaan sebagaimana sholat-sholat sunah yang dilakukan malam hari dan bisa berjamaah.
Namun untuk masalah sholat gerhana matahari atau kusufus asy syams ulama berbeda pedapat.
a. Pendapat pertama mengatakan bacaan pada sholat gerhana matahari dibaca dengan sirr atau pelan. Dasar pendapat ini antara lain hadis dari Samurah yang berbunyi:
صلى بنا النبي صلى الله عليه وسلم في كسوف لا نسمع له صوتا
Artinya: “Rasulullah mengimami kami dalam sholat kusuf (gerhana matahari) dan kami tidak mendengar suara apa pun.” (HR. An Nasai, Abu Daud, Tirmdzi dan Ibn Majah)
Imam At tirmidzi menilai hadis ini sebagai hadis hasan shohih
Dalil yang kedua: bahwa shalat kusuf dilakukan pada siang hari, maka dibaca sirr sebagaimana sholat sunah siang yang lain.
Pendapat ini dipilih oleh jumhur ulama diantarnya; Imam Abu Hanifah, Al Malikiyah dan Asy Asyafiiyah.
b. Pendapat kedua mengakatakan untuk mengeraskan bacaan pada dua gerhana, matahari dan bulan. Pendapat ini dipilih oleh Madzhab Hanbali dengan dasar antara lain hadis dari Aisyah r.a ;
أن النبي صلى الله عليه وسلم جهر في صلاة الخسوف بقراءته فصلى أربع ركعات في ركعتين، وأربع سجدات } أخرجه البخاري ومسلم وفي لفظ : { صلى صلاة الكسوف فجهر بالقراءة فيها } . رواه الترمذي وصححه .
Artinya: “bahwa Rasulullah SAW mengeraskan bacaannya pada Sholat Khusuf (gerhana bulan) dengan empat ruku’ dalam dua rakaat dan empat sujud” [HR. Bukhari dan Muslim] dalam riwayat yang lain “Rasulullah mengerjakan sholat kusuf (gerhana matahari) dan mengeraskan bacaanya” [HR. At Tirmidzi] hadis ini ada di dalam kitab Nailul Author]
Namun Imam Asy syaukani mengatakan dalam masalah ini bahwa mengeraskan bacaan lebih utama dari pada memelankannya. “أن الجهر أولى من الإسرار” [Nailul Author, vol. 3, hal. 394 milik Imam Asy Syaukani]
6. Khutbah sholat gerhana
Tentang ada dan tidaknya khutbah setelah sholat gerhana, ulama pun berbeda pendapat. Ada yang mengatakan khutbah disyariatkan dan ada yang mengatakan tidak ada.
Pendapat pertama: Ada khutbah [Al Majmu’, vol. 5, hal. 52, Fatthu Al Bari, vol. 2, hal, 620, Bidayatul Mujtahid, vol. 1, al 311]
Pedapat ini didasari oleh hadis:
إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَا يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَادْعُوا اللَّهَ وَصَلُّوا حَتَّى تَنْكَشِفَ (رواه مسلم)
Artiya: “sesungguhya matahari dan bulan merupakan dua tanda dari tanda-tanda kekuasaan Allah SWT. Dan keduanya tidak akan megalami gerhana karena sebab kematian dan kelahiran seseorang. Jika kalian meliatnya (kedua gerhana) maka berdoalah kepada Allah dan kerjakanlah sholat hingga hilang gerhananya.” (HR. Muslim)
Secara tegas Rasulullah SAW melakukan khutbah setelah menunaikan sholat gerhana. Pendapat ini dipilih oleh kalangan Syafiiyah. Bahkan mereka menegaskan bahwa khutbah ini hukumnya sunah sebagaimana khutbah setelah shalat iedain dan istisqo’.
Pendapat kedua: Tidak ada khutbah
Pendapat kedua juga menggunakan hadis yang dipakai oleh pendapat pertama. Namun mereka mentakwilkannya sehingga khutbah Rasulullah bukan sebadai kesunahan. Karena khutbah beliau ketika itu hanya ingin memperjelas bahwa gerhana bukanlah peristiwa yang menyertai kematian dan kelahiran seseorang, termasuk wafatnya pura beliau yang bertepatan dengan peristiwa gerhana. Pendapat ini dipilih oleh kalangan Malikiyah, Hanafiyah dan Hanabilah. [Al Badai’, vol.1, hal. 282, Al Muhgni, vol. 2, hal. 425]
Penutup:
Mengingat peristiwa gerhana bukan peristiwa yang terjadual dengan pasti, tentu pelaksanaan sholat gerhana jarang dilakukan. Maka ada baiknya setiap penyelenggara sholat gerhana berjamaah untuk membuat kesepakatan tentang tatacara dan model yang ingin dilakukan agar tidak mebuat kebingungan ditengah jamaah. Sebagaimana kita maklum, ada beberapa perbedaan pendapat ulama dalam hal pelaksaan sholat gerhana, dari jarh atau sirr, dengan khutbah atau tidak, berjamaah atau pun sendiri-sediri dan perbedaan lainnya.
Wallahu a'lam
SHOLAT GERHANA
Diambil dari pesan whatsapp oleh ust. Qodima Syagik
Tata cara pelaksanaan shalat gerhana sebagai berikut:
[1] Berniat sholat gerhana
[2] Takbiratul ihram
[3] Membaca do’a istiftah dan berta’awudz, kemudian membaca surat Al Fatihah dan membaca surat
[4]Kemudian ruku’
[5]Kemudian bangkit dari ruku’ (i’tidal)
[6]Setelah i’tidal ini tidak langsung sujud, namun dilanjutkan dengan membaca surat Al Fatihah
[7]Kemudian ruku’ kembali (ruku’ kedua)
[8]Kemudian bangkit dari ruku’ (i’tidal).
[9]Kemudian sujud yang panjangnya sebagaimana ruku’, lalu duduk di antara dua sujud kemudian sujud kembali.
[10]Kemudian bangkit dari sujud lalu mengerjakan raka’at kedua sebagaimana raka’at pertama
[11]Salam.
Bacaan sholat gerhana matahari dengan sirr/tidak keras , sedangkan pada gerhana bulan dengan jahr/keras
Setelah sholat selaesai disunatkan khutbah dua kali seperti khutbah jum'ah , adapun isi khutbah yg perlu ditekankan adalah ajakan untuk taubah dari dosa-dosa , berbuat baik dengan shoaqoh dan memerdekakan budak
Waktunya sholat gerhana tidak hilang karena terbitnya fajar namun hilang dengan injila'/terangnya bulan atau tampaknya matahari
Fathul qorib :
صلاة الكسوف والخسوف{فصل} (وصلاة الكسوف) للشمس، وصلاة الخسوف للقمر، كل منهما (سنة مؤكدة، فإن فاتت) هذه الصلاة (لم تقض) أي لم يُشرَع قضاؤُها. (ويصلي لكسوف الشمس وخسوف القمر ركعتين) يحرم بنية صلاة الكسوف، ثم بعد الافتتاح والتعوذ يقرأ الفاتحة، ويركع، ثم يرفع رأسه من الركوع، ثم يعتدل، ثم يقرأ الفاتحة ثانيا، ثم يركع ثانيا أخف من الذي قبله، ثم يعتدل ثانيا، ثم يسجد السجدتين بطمأنينة في الكل، ثم يصلي ركعة ثانية بقيامين وقراءتين وركوعين واعتدالين وسجودين. وهذا معنى قوله: (في كل ركعة) منهما (قيامان يطيل القراءة فيهما) كما سيأتي، (و) في كل ركعة (ركوعان يطيل التسبيح فيهما، دون السجود)؛ فلا يطوله، وهو أحد وجهين، لكن الصحيح أنه يطوله نحو الركوع الذي قبله، (ويخطب) الإمام (بعدهما) أي بعد صلاة الكسوف والخسوف (خطبتين) كخطبتي الجمعة في الأركان والشروط، ويحث الناسَ في الخطبتين على التوبة من الذنوب وعلى فعل الخير من صدقة وعتق
(1/104)
ونحو ذلك.(ويُسِرُّ) بالقراءة (في كسوف الشمس، ويجهر) بالقراءة (في خسوف القمر). وتفوت صلاة كسوف الشمس بالانجلاء للمنكسف وبغروبها كاسفة، وتفوت صلاة خسوف القمر بالانجلاء وطلوع الشمس، لا بطلوع الفجر ولا بغروبه خاسفا، فلا تفوت الصلاة.