Kamis, 17 Agustus 2017

Puisi "Rindu ku"

Rindu ku
Karya : Dina Fathimah

Hari ini
Setetes air hujan pertama kali menyapa tanah Solo
Pukul 16.28
Aku rindu padanya
Bumi yang panas dan retak telah menjadi basah

Debu-debu tak lagi beterbangan
Air hujan telah melembutkannya
Menggodaku untuk bermain dengan nya

Wangi tanah yang basah
Telah lama tak ku hirup
Aku rindu padanya

Butiran-butiran lembut itu kembali menggodaku
Aku ingin berlari memeluk nya
Merasakan detak nya menyentuh tubuhku
Aku rindu padanya




Sekretariat, 21.29
Jum'at, 24 Juli 2009

Senin, 07 Agustus 2017

Gerhana Bulan Sebagian "Half Moon Eclipse"


*** *INFORMASI AKAN TERJADINYA GERHANA BULAN PARSIAL SELURUH INDONESIA* ***
Diambil dari pesan whatsapp grup oleh ust Hisyam Moe'ti

Insya Allah, berdasarkan hasil perhitungan astronomis, bahwa pada:
HARI/TANGGAL: Malam Selasa/ 7-8 Agustus 2017
Kronologis Periode:
- Fase Awal Penumbral: 22:50:02 WIB (7 Agustus)
- Fase Awal Umbra: 00:22:55 WIB
- Fase Puncak (Mengalami Kegelapan): 01:20:27 WIB
- Fase Akhir Umbra: 02:18:10 WIB
- Fase Akhir Penumbral: 03:50:56 WIB

AKAN TERJADI GERHANA BULAN PARSIAL yang DAPAT DILIHAT DI SELURUH WILAYAH INDONESIA.

Bagi seluruh UMAT ISLAM DIHIMBAU untuk:
1. Mengumandangkan TAKBIRAN sebagaimana takbir Hari Raya mulai AWAL GERHANA.
2. Mengumandangkan ISTIGHFAR, TASBIH, TAHLIL, dan TAHMID sebagaimana takbir Hari Raya mulai AWAL GERHANA hingga AKHIR GERHANA terbuka.
3. Menyeru kepada UMAT ISLAM untuk SHOLAT GERHANA BULAN secara BERJAMA'AH.
4. SHOLAT GERHANA BULAN saat PUNCAK GERHANA.
5. KHUTBAH GERHANA yang temanya tentang KEAGUNGAN ALLAH dan memperbanyak TAUBAT.
6. SHODAQOH GERHANA hingga gerhana berakhir.

Sumber/Referensi:
1. KALENDER NU/PBNU;
2. KALENDER LEMBAGA FALAKIAH NU JAWA TIMUR;
3. ALMANAK PERSATUAN ISLAM (PERSIS);
4. NASA;
5. TIME AND DATE;

*** *Silakan UMUMKAN KE SELURUH PENGURUS MASJID DI SELURUH INDONESIA MELAUI JARINGAN MEDIA SOSIAL FACEBOOK, TWITTER, WHATSAPP, TELEGRAM, MEDIA RADIO KONVENSIONAL, DAN MEDIA TELEVISI KONVENSIONAL* ***

https://m.facebook.com/groups/83563614041?view=permalink&id=10155469466124042
[7/8 08.47] ‪+62 858-4299-3634‬: Sholat Gerhana Matahari dan Bulan, Hukum dan Tata Caranya

Ada dua istilah dalam penamaan gerhana, kusuf dan khusuf. Keduanya adalah sinonim. Jika kedua nama tersebut disebutkan secara bersamaan, maka makna  kusuf untuk gerhana matahari dan khusuf untuk gerhana bulan. Dua penyebutan dengan nama yang berbeda seperti ini lebih masyhur di kalangan fuqoha’. Namun kadangkala ada penyebutan kusufaini dan khusufaini yang keduanya bermakna dua gerhana, yaitu matahari dan bulan.

Pada dua kejadian alam ini, gerhana matahari dan bulan, ada sholat yang disyariatkan oleh Rosulullah SAW, yaitu sholat gerhana. Rasulullah Bersabda:

(إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَا يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَادْعُوا اللَّهَ وَصَلُّوا حَتَّى تَنْكَشِفَ (رواه مسلم)

Artiya: “sesungguhya matahari dan bulan merupakan dua tanda dari tanda-tanda kekuasaan Allah SWT. Dan keduanya tidak akan megalami gerhana karena sebab kematian dan kelahiran seseorang.  Jika kalian meliatnya (kedua gerhana) maka berdoalah kepada Allah dan kerjakanlah sholat hingga hilang gerhananya.” (HR. Muslim)

Hukum Sholat gerhana dan Tatacara pelaksanaannya:

Secara hukum taklifi,  sholat kusuf  asy-Syams atau gerhana matahari, jumhur ulama menghukuminya sebagai sunnah muakkadah bagi setiap muslim dan dilakukan secara berjamaah. [shohih fiqh as-Sunnah, vol. 1 hal. 381].  Adapun sholat khusuf al-qomar atau sholat gerhana bulan, ulama berbeda pendapat. Ada yang megatakan dilakukan sendiri-sendiri ada juga yang mengatakan dilakukan secara berjamaah sebagaimana sholat gerhana matahari.

Namun, DR. Wahbah Az Zuhaili dalam kitabnya Mausuah al Fiqh al Islami wa al Qodoya al Mu’ashiroh, vol. 2, hal. 353 beliau mengatakan: “sholat gerhana, baik matahari maupun bulan, bisa dilakukan dengan  berjamaah atau pun sendiri-sendiri, baik sirr maupun jahr, dengan khutbah maupun tanpa khutbah sesuai rincian (perbedaan pedapat) pada masing-masing  madzhab. Namun mengerjakannya di masjid secara berjamaah lebih utama karena Rasulullah pernah melakukannya demikian (jamaah di masjid)”.

Tatacara pelaksanaan:

Adapun tatacara pelaksanaan sholat gerana, baik matahari maupun bulan, DR. Wahbah Az Zuhaili meringkaskan pendapat jumhur fuqoha’ dari bebrapa kitab yang dinukilnya. [al Qowanin al Fiqhiyah, hal. 88, Bidayatul Mujtahid, vol. 1, hal. 203, Mughni Al Muhtaj, vol. 1, hal. 317, dll]

1.       Sholat gerhana dilakukan dua rakaat tanpa adzan dan iqomah. sebelum pelaksanannya dianjurkan untuk membaca as sholata  jamiah  oleh perwakilan jamaah. Sebagaimana hadis dari Aisyah r.a:

أَنَّ الشَّمْسَ خَسَفَتْ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَبَعَثَ مُنَادِيًا «الصَّلاَةَ جَامِعَةً»، فَاجْتَمَعُوا وَتَقَدَّمَ فَكَبَّرَ، وَصَلَّى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ في رَكْعَتَيْنِ وَأَرْبَعَ سَجَدَاتٍ )رواه مسلم(

 Artinya: “Pada zaman Nabi Pernah terjadi gerhana matahari, kemudian beliau (Nabi) mengutus seorang penyeru untuk mengucapkan “Ash sholat Jamiatan”. Kemudian orang-orang berkumpul dan Nabi maju (untuk imam) dan memulai sholatnya dengan empat ruku’ dan empat sujud” [HR. Muslim]

2.       Masing-masing rakaat terdiri dari:  dua berdiri, dua bacaan (al Fatihah kemudian surat) dan dua ruku’ serta dua sujud. Secara keseluruhan 2 rakaat ada 4 ruku’, 4 berdiri, 4 al Fatihah dan surat, dan 4 sujud,

3.       Raakat pertama:

a.       Berdiri pertama, membaca al Fatihah kemudian surat, disunahkan surat al Baqoroh atau yang sepanjang al Baqoroh.

b.      Kemudian rukuk dan berdiri kembali (berdiri kedua) sembari membaca “samiallahu liman hamidahu. Robbana lakal hamdu”.

Membaca “samiallahu liman hamidah. Robbana lakal hamdu” setiap kali bangun dari ruku’ sebagaima sholat yang lain. [DR. Fauzan bin Abdullah al Fauzan, al Mulakhos al Fiqhi, vol. 1, hal 205]

c.       Bediri kedua membaca al Fatihah dan surat yang lebih pendek dari al Baqoroh. Kira-kira 200 ayat seperti Ali Imron.

d.      Kemudian ruku’ dan i’tidal

e.      Sujud 2 kali kemudian berdiri untuk rakaat ke dua.

4.       Rakaat kedua:

a.       Rakkat kedua sama sebagaimana rakaat pertama. Namun diakhiri dengan tasyahud dan salam.

b.      Berdiri ketiga, disunahkan membaca surat yang lebih pedek dari Ali Imron, yaitu sekitar 150 ayat seperti surat An Nisa’.

c.       Dan berdiri keempat membaca suarat yang lebih pedek dari berdiri ketiga, sekitar 100 ayat seperti surat al Maidah.

Bacaan panjang pada 4 berdiri itu sifatnya hanya anjuran bukan wajib. Karena bacaan bacaan panjang mempunyai tujuan, di antaranya,  untuk menunggu berakhirnya peristiwa gerhana. Bahkan panjangnya bacaan bisa saja disesuaikan dengan lamanya peristiwa gerhana menurut perkiraan para ahli.

5.       Jahr dan sirr atau mengeraskan dan memelankan bacaan [DR. Wahbah Az Zuhaili dalam kitabnya Mausuah al Fiqh al Islami wa al Qodoya al Mu’ashiroh, vol. 1, al 358]

Untuk sholat gerhana bulan atau khusufu al Qomar ulama bersepakat untuk megeraskan bacaan sebagaimana sholat-sholat sunah yang dilakukan malam hari dan bisa berjamaah.

Namun untuk masalah  sholat gerhana matahari atau kusufus asy syams ulama berbeda pedapat.

a.       Pendapat pertama mengatakan bacaan pada sholat gerhana matahari dibaca dengan sirr atau pelan. Dasar pendapat ini  antara lain hadis dari Samurah yang berbunyi:

صلى بنا النبي صلى الله عليه وسلم في كسوف لا نسمع له صوتا

Artinya: “Rasulullah mengimami kami dalam sholat kusuf (gerhana matahari) dan kami tidak mendengar suara apa pun.” (HR. An Nasai, Abu Daud, Tirmdzi dan Ibn Majah)

Imam At tirmidzi menilai hadis ini sebagai hadis hasan shohih

Dalil yang kedua: bahwa shalat kusuf dilakukan pada siang hari, maka dibaca sirr sebagaimana sholat sunah siang yang lain.

Pendapat ini dipilih oleh jumhur ulama diantarnya; Imam Abu Hanifah, Al Malikiyah dan Asy Asyafiiyah.

b.      Pendapat kedua mengakatakan untuk mengeraskan bacaan pada dua gerhana, matahari dan bulan. Pendapat ini dipilih oleh Madzhab Hanbali dengan dasar antara lain hadis dari Aisyah r.a ;

أن النبي صلى الله عليه وسلم جهر في صلاة الخسوف بقراءته فصلى أربع ركعات في ركعتين، وأربع سجدات } أخرجه البخاري ومسلم  وفي لفظ : { صلى صلاة الكسوف فجهر بالقراءة فيها } . رواه الترمذي وصححه .

Artinya: “bahwa Rasulullah SAW mengeraskan bacaannya pada Sholat Khusuf (gerhana bulan) dengan empat ruku’ dalam dua rakaat dan empat sujud” [HR. Bukhari dan Muslim] dalam riwayat yang lain “Rasulullah mengerjakan sholat kusuf (gerhana matahari) dan mengeraskan bacaanya” [HR. At Tirmidzi] hadis ini ada di dalam kitab Nailul Author]

Namun Imam Asy syaukani mengatakan dalam masalah ini bahwa mengeraskan bacaan lebih utama dari pada memelankannya. “أن الجهر أولى من الإسرار” [Nailul Author, vol. 3, hal. 394 milik Imam Asy Syaukani]

6.       Khutbah sholat gerhana

Tentang ada dan tidaknya khutbah setelah sholat gerhana, ulama pun berbeda pendapat. Ada yang mengatakan khutbah disyariatkan dan ada yang mengatakan tidak ada.

Pendapat pertama: Ada khutbah [Al Majmu’, vol. 5, hal. 52, Fatthu Al Bari, vol. 2, hal, 620, Bidayatul Mujtahid, vol. 1, al 311]

Pedapat ini didasari oleh hadis:

إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَا يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَادْعُوا اللَّهَ وَصَلُّوا حَتَّى تَنْكَشِفَ (رواه مسلم)

Artiya: “sesungguhya matahari dan bulan merupakan dua tanda dari tanda-tanda kekuasaan Allah SWT. Dan keduanya tidak akan megalami gerhana karena sebab kematian dan kelahiran seseorang.  Jika kalian meliatnya (kedua gerhana) maka berdoalah kepada Allah dan kerjakanlah sholat hingga hilang gerhananya.” (HR. Muslim)

Secara tegas Rasulullah SAW melakukan khutbah setelah menunaikan sholat gerhana. Pendapat ini dipilih oleh kalangan Syafiiyah. Bahkan mereka menegaskan bahwa khutbah ini hukumnya sunah sebagaimana khutbah setelah shalat iedain dan istisqo’.

Pendapat kedua: Tidak ada khutbah

Pendapat kedua juga menggunakan hadis yang dipakai oleh pendapat pertama. Namun mereka mentakwilkannya sehingga khutbah Rasulullah bukan sebadai kesunahan. Karena khutbah beliau ketika itu hanya ingin memperjelas bahwa gerhana bukanlah peristiwa yang menyertai kematian dan kelahiran seseorang, termasuk wafatnya pura beliau yang bertepatan dengan peristiwa gerhana. Pendapat ini dipilih oleh kalangan Malikiyah, Hanafiyah dan Hanabilah. [Al Badai’, vol.1, hal. 282, Al Muhgni, vol. 2, hal. 425]

Penutup:

Mengingat peristiwa gerhana bukan peristiwa yang terjadual dengan pasti, tentu pelaksanaan sholat gerhana jarang dilakukan. Maka ada baiknya setiap penyelenggara sholat gerhana berjamaah untuk membuat kesepakatan tentang tatacara dan model yang ingin dilakukan agar tidak mebuat kebingungan ditengah jamaah. Sebagaimana kita maklum, ada beberapa perbedaan pendapat ulama dalam hal pelaksaan sholat gerhana, dari jarh atau sirr, dengan khutbah atau tidak, berjamaah atau pun sendiri-sediri dan perbedaan lainnya.

Wallahu a'lam


SHOLAT GERHANA
Diambil dari pesan whatsapp oleh ust. Qodima Syagik

Tata cara pelaksanaan shalat gerhana sebagai berikut:

[1] Berniat sholat gerhana
[2] Takbiratul ihram
[3] Membaca do’a istiftah dan berta’awudz, kemudian membaca surat Al Fatihah dan membaca surat
[4]Kemudian ruku’
[5]Kemudian bangkit dari ruku’ (i’tidal)
[6]Setelah i’tidal ini tidak langsung sujud, namun dilanjutkan dengan membaca surat Al Fatihah
[7]Kemudian ruku’ kembali (ruku’ kedua)
[8]Kemudian bangkit dari ruku’ (i’tidal).
[9]Kemudian sujud yang panjangnya sebagaimana ruku’, lalu duduk di antara dua sujud kemudian sujud kembali.
[10]Kemudian bangkit dari sujud lalu mengerjakan raka’at kedua sebagaimana raka’at pertama
[11]Salam.

Bacaan sholat gerhana matahari dengan sirr/tidak keras , sedangkan pada gerhana bulan dengan jahr/keras

Setelah sholat selaesai disunatkan khutbah dua kali seperti khutbah jum'ah , adapun isi khutbah yg perlu ditekankan adalah ajakan untuk taubah dari dosa-dosa , berbuat baik dengan shoaqoh dan memerdekakan budak

Waktunya sholat gerhana tidak hilang karena terbitnya fajar namun hilang dengan injila'/terangnya bulan atau tampaknya matahari

Fathul qorib :

صلاة الكسوف والخسوف{فصل} (وصلاة الكسوف) للشمس، وصلاة الخسوف للقمر، كل منهما (سنة مؤكدة، فإن فاتت) هذه الصلاة (لم تقض) أي لم يُشرَع قضاؤُها. (ويصلي لكسوف الشمس وخسوف القمر ركعتين) يحرم بنية صلاة الكسوف، ثم بعد الافتتاح والتعوذ يقرأ الفاتحة، ويركع، ثم يرفع رأسه من الركوع، ثم يعتدل، ثم يقرأ الفاتحة ثانيا، ثم يركع ثانيا أخف من الذي قبله، ثم يعتدل ثانيا، ثم يسجد السجدتين بطمأنينة في الكل، ثم يصلي ركعة ثانية بقيامين وقراءتين وركوعين واعتدالين وسجودين. وهذا معنى قوله: (في كل ركعة) منهما (قيامان يطيل القراءة فيهما) كما سيأتي، (و) في كل ركعة (ركوعان يطيل التسبيح فيهما، دون السجود)؛ فلا يطوله، وهو أحد وجهين، لكن الصحيح أنه يطوله نحو الركوع الذي قبله، (ويخطب) الإمام (بعدهما) أي بعد صلاة الكسوف والخسوف (خطبتين) كخطبتي الجمعة في الأركان والشروط، ويحث الناسَ في الخطبتين على التوبة من الذنوب وعلى فعل الخير من صدقة وعتق

(1/104)

ونحو ذلك.(ويُسِرُّ) بالقراءة (في كسوف الشمس، ويجهر) بالقراءة (في خسوف القمر). وتفوت صلاة كسوف الشمس بالانجلاء للمنكسف وبغروبها كاسفة، وتفوت صلاة خسوف القمر بالانجلاء وطلوع الشمس، لا بطلوع الفجر ولا بغروبه خاسفا، فلا تفوت الصلاة.

Festival lomba layang-layang "Kite Festival"



Festival Layang-layang

Dalam menyambut hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia, Ansor NU desa Karang jengkol Kecamatan Kesugihan Kabupaten Cilacap dan beberapa lembaga lainnya mengadakan Festival Layang-layang.
Pelaksanaannya pada hari Sabtu-Minggu 19-20 Agustus 2017 di area persawahan Parakan Wetan.

Sabtu, 05 Agustus 2017

Puisi "Tentang Kota Jakarta"

Tentang Kota Jakarta
Karya : Dina Fathimah

Setiap detail otakku memikirkan ini
Hal-hal yang ingin ku tulis
Yang telah lama ku tahan
Yang telah lama berlalu
Namun, baru ku temukan disini

Setiap langkah ku disini
Aku mengamati dan memperhatikannya
Sesuatu yang ku lewati dan ku lihat
Ya benar, sekadar ku lewati dan ku lihat
Sungguh kejam dan tak berperasaan kan aku ini?

Dalam menit ke menit
Dan bahkan detik ke detik
Di pinggiran kota Jakarta yang sederhana
Oh, maaf
Pinggiran kota Jakarta yang padat maksudnya
Padat oleh penduduk, kendaraan pribadi ataupun kendaraan umum, 
rumah yang saling mepet

Kita mulai dari penduduk
Anak-anak itu tampak menikmati bermain di lapangan
Namun ada yang aneh dalam pemandangan itu
Bukan pohon-pohon tinggi atau tribun penonton yang akan membuatnya lebih segar dan nyaman
Melainkan tumpukan-tumpukan sampah yang berserakan di tepi lapangan

Itu benar-benar tumpukan sampah yang berserakan
Bukan sampah daun yang akan menyuburkan tanah disekitarnya
Tetapi semua jenis sampah plastik ada disitu
Tampak seperti pembuangan akhir, aku menyebutnya
Namun sebutan itu tak akan ku sampaikan pada orang-orang disini
Karena mereka hidup bersamanya
Benar-benar tak BBM masuk akal bukan?


Rawa Kuning, 09.15
Sabtu, 15 September 2012

Puisi "Tentang Ayah"

Tentang Ayah
Karya : Dina Fathimah

Ia
Sosok pemimpin keluarga
Manusia bijaksana dan tak pernah patah semangat

Yang bekerja saat matahari belum terbit
Dan pulang setelah matahari telah pergi

Ia
Tak pernah merasakan cahaya menyentuh rumahnya
Namun ia selalu merasakan 3 matahari kecil dirumahnya


Pulogebang, 17.12
Jum'at, 27 Juli 2012

Puisi "Sebuah Langkah Bersama Alam"

Sebuah Langkah Bersama Alam
Karya : Dina Fathimah

Semilir angin yang membelai wajahku dengan lembut, sejuk, segar, syahdu
Burung-burung yang berkicau dari kejauhan
Serangga-serangga yang berdengung meramaikan suasana
Air yang mengalir itu
Rerumputan yang bersentuhan dengan lembutnya
Dan tanah yang dingin ini
Aku rindu, aku sangat rindu semua ini
Kesendirian ini, hanya ada aku, alam, dan Tuhan
Segala puji bagi Engkau pencipta semua alam

Aku rindu, aku sangat rindu
Saat telapak-telapak kakiku menyentuh tanah ini
Saat aku bukan siapa-siapa dan tak berarti apa-apa
Dan, kusadari air mataku
Bukan karena sedih, bukan karena marah
Tapi karena senang, tapi karena terharu

Demi bunga ungu di rerumputan itu
Demi dahan-dahan, demi ranting-ranting, demi ujung daun cemara itu
Karena Engkau Maha Kuasa
Tapi, aku disini hanya ingin bercerita kepadaMu, kepada alam
Bukan tentang dia, mereka atau siapa
Tetapi tentang aku

Ya Tuhan
Engkaulah segala ujung dunia ini
Engkau adalah ujung aku ini
Dan, alam telah membawaku untuk mengingat Mu
Terima kasih Tuhan, terima kasih
Engkau telah mengijinkan aku kembali pada Mu

Terima kasih Tuhan
Demi matahari yang masih terus menyinari bumi
Demi langit biru yang menenangkan hati
Demi awan putih yang suci


Tlogo Dringo, 14.30
Minggu, 1 Juli 2012

Puisi "Punya Nama"

Punya nama
Karya : Dina Fathimah

Apakah kau punya nama?
Aku tau, kau pasti punya nama
Tapi...
Apakah aku punya nama?
Aku tak tahu, aku belum punya nama

Ia begitu mudah mendapatkan segalanya
Karena orang tuanya punya nama
Kemudian, aku tidak bisa sekolah
Karena orang tuaku tak punya nama

Aku ragu
Seberapa penting sekolah apabila yang terlibat didalamnya adalah orang yang punya nama

Aku tidak sekolah
Tapi aku bisa membaca
Padahal aku tak punya nama

Apa kau tahu arti sebuah nama?
Kapan aku bisa punya nama?

Umurku 11 tahun
Aku yakin suatu saat, aku akan punya nama


Sekretariat, 18.28
Selasa, 29 Mei 2012

Puisi "Orang Itu"

Orang Itu
Karya : Dina Fathimah

Pagi itu
Aku bergegas dan tergesa
Pagi itu Kamis cerah

Bergegas menuju terminal
Terminal bus Giwangan Jogja
Dengan penuh perasaan was-was

Kemarin
Kemarin sore tepatnya
Aku terusik dalam pikiran

Aku terus berusaha
Agar otak ini berjalan lancar

Siang itu
Langit dan awan menguatkan hati ini
Matahari membiarkanku bersandar di tepi

Perlahan
Kota demi kota telah aku lewati
Menatap keluar jendela kaca
Jendela kaca bus ini

Masih dengan hati gundah
Berjalan cepat menuju ruang
Ya...
Ruang Cempaka nomor empat
Rumah sakit Siaga Medika

Terduduk lemas tubuh itu
Menatapku dengan mata sayu

Muka sebelah kanannya lebam
Lengan kanannya patah

Ya...
Orang itu
Orang yang berarti dalam hidupku
Orang yang selalu di sampingku
Orang yang selalu ku tunggu

Tangis di dalam mataku membeku
Senyum tipisku menyambut
Walau hati ini berkabut

Semua ini
Karena orang lain iri
Kepada dirimu yang telah menundukkan hati
Karena Dia sedang menguji



Sekretariat
Jum'at, 20 April 2012

Puisi "Sepenggal Kisah Tukang Becak"

Sepenggal Kisah Tukang Becak
Karya : Dina Fathimah

Malam itu basah
Tetes demi tetes jatuh ke hamparan tanah
Dingin itu beku
Namun dia tetap mengayuh dengan kaku

Betisnya kecil
Badannya pun kecil

Hingga kayuhannya berhenti
Ia turun dari tempat duduk
Mengamati ban belakang yang tipis
Tetapi ia tak sedikitpun termangu

Ia coba berkata
Tapi yang kudengar ia bergumam
Ia tak mampu berkata
Hanya mampu berisyarat

Ternyata ia tuna wicara
Namun gerakan tubuhnya tetap cekatan
Aku terpaku
Melihatnya memperbaiki ban belakang becaknya

Ban itu tipis
Ban dalam dan luarnya keluar dari porosnya
Ia menyuruhku menunggu disini
Karena ia akan memompa ban nya

Beberapa menit kemudian ia datang
Kulihat ban belakangnya
Namun ban itu masih seperti tadi
Seperti tadi sebelum ia pergi

Aku melihatnya kasihan
Rambutnya cepak dan basah terkena gerimis
Kaosnya tanpa lengan
Celananya hitam sepanjang lutut
Sandalnya hitam terbuat dari karet

Sungguh perjuangan hidup yang keras
Yang belum pernah kualami sekeras itu

Tuhan berikanlah ia kebahagiaan
Sungguh hanya itu yang bisa kuberikan untuknya




Sekretariat,12.38 pm
Selasa, 3 April 2012

Metamorfosis larva menjadi lebah🐝 The metamorph of a bee

Metamorfosis lebah berawal dari telur berwarna putih berukuran sekitar 1mm. Kemudian berkembang menjadi larva berkepala hitam. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, larva artinya serangga (berupa ulat) yang belum dewasa yang baru keluar dari telurnya.
Pada tahap ini, larva berwarna putih transparan dengan diameter sekitar 7mm dan panjang 25mm. Teksturnya empuk.
Tahap berikutnya adalah pasca larva dengan ciri yang bisa dilihat melalui kulit larva yang menguning dan kulitnya mengeras.
Pasca larva berhubungan dengan tahapan yang menyerupai Juvenil, tetapi beberapa ciri kedewasaannya belum lengkap (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Sedangkan Juvenil artinya muda, masuk golongan pemuda, terjadinya semasa masih muda (menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia). Struktur tubuhnya sudah terdapat kaki tetapi belum sempurna.
Tahap terakhir yang hampir sempurna yaitu warna tubuhnya semakin gelap seperti lebah pada umumnya tetapi belum bersayap.

Kamis, 03 Agustus 2017

Assalamualaikum..
Salam sejahtera saya sampaikan..
BagiNya segala puji, di hari yang baik ini saya mencoba untuk membuka dunia lewat kacamata ku. Hasil pengabadian suatu kejadian yang menunjukkan betapa besar nya Engkau. Betapa sempurnanya ciptaan Mu.
Semoga bisa menjadi inspirasi dan menambah keimanan kita. Aamiin